Aidil Akbar Resmi Dilantik sebagai Gubernur Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Islam Indragiri

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:02:55 WIB
Ket foto: Aidil Akbar sebagai Gubernur Mahasiswa Fakultas Pertanian UNISI

Pelantikan Aidil Akbar sebagai Gubernur Mahasiswa Fakultas Pertanian bukan sekadar pergantian kepemimpinan organisasi mahasiswa. Di balik seremoni itu, ada pekerjaan yang lebih besar: memastikan mahasiswa pertanian tidak berhenti menjadi penonton atas persoalan petani di daerahnya sendiri.

Aidil Akbar resmi menerima mandat sebagai Gubernur Mahasiswa Fakultas Pertanian dalam prosesi pelantikan yang digelar pada Senin, 24 Agustus 2026. Ia membawa gagasan agar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) tidak hanya sibuk mengurus agenda internal kampus, tetapi mulai memperluas ruang pengabdiannya ke masyarakat.

Salah satu sasaran yang disebut Aidil adalah petani di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil).

*“BEM Pertanian siap menjadi mitra masyarakat untuk memajukan petani Inhil,”* kata Aidil.

Pernyataan itu bukan tanpa konsekuensi. Menjadi mitra masyarakat berarti BEM harus berani keluar dari ruang rapat, turun ke lapangan, mendengar persoalan petani, lalu menerjemahkan pengetahuan kampus menjadi sesuatu yang bisa digunakan masyarakat.

Bagi Aidil, mahasiswa pertanian memiliki modal yang tidak dimiliki semua organisasi mahasiswa: pengetahuan tentang sektor yang menjadi salah satu penopang kehidupan masyarakat. Modal itu, menurut dia, akan kehilangan makna jika hanya berputar di lingkungan akademik.

Ia mendorong BEM Pertanian menjadi penghubung antara mahasiswa, akademisi, pemerintah, dan masyarakat. Ruang kolaborasi itu diharapkan dapat digunakan untuk menghadirkan edukasi, pendampingan, inovasi, serta menyerap persoalan yang selama ini dihadapi petani.

*“Mahasiswa pertanian tidak boleh hanya memahami persoalan pertanian dari buku dan ruang kelas. Kita harus berani turun ke lapangan, melihat persoalan secara langsung, dan ikut mencari jalan keluarnya,”* ujar Aidil.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi kepengurusan baru. Sebab, ukuran keberhasilan organisasi mahasiswa bukan semata jumlah kegiatan atau meriahnya acara. Ukurannya adalah apakah organisasi mampu meninggalkan manfaat setelah sebuah kepengurusan berakhir.

Aidil mengatakan kepemimpinannya akan dibangun dengan prinsip keterbukaan dan kolaborasi. Ia mengajak mahasiswa Fakultas Pertanian tidak terjebak dalam sekat kelompok dan kepentingan internal organisasi.

Menurut dia, perbedaan pandangan merupakan bagian dari dinamika demokrasi mahasiswa. Yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan itu justru membuat organisasi kehilangan arah dan menjauh dari kepentingan mahasiswa.

Karena itu, BEM Pertanian di bawah kepemimpinannya ingin menempatkan aspirasi mahasiswa sebagai salah satu pijakan utama dalam menjalankan organisasi. Pada saat yang sama, BEM akan didorong untuk memiliki keberanian mengambil peran dalam persoalan masyarakat.

*“Jabatan ini bukan tentang siapa yang paling tinggi posisinya. Ini tentang siapa yang paling siap bekerja dan bertanggung jawab atas amanah yang diberikan,”* kata Aidil.

Pelantikan itu kini menjadi titik awal. Setelah seremoni selesai, tantangan sesungguhnya baru dimulai.

BEM Pertanian dituntut membuktikan apakah gagasan menjadikan organisasi mahasiswa sebagai mitra masyarakat benar-benar dapat diterjemahkan menjadi kerja nyata. Terutama bagi petani Inhil yang selama ini berhadapan dengan berbagai persoalan di sektor pertanian.

Aidil mengatakan kepengurusan baru tidak ingin sekadar menjadi pelengkap dalam dinamika kampus.

*“Kami ingin BEM Pertanian hadir, bekerja, dan memberikan manfaat. Dari kampus, kami belajar. Dari masyarakat, kami mengabdi,”* ujarnya.

Terkini