Sebuah Catatan Awal dari Kaum Mustad’afin Menyambut PEMIRA UNISI 2026

Sebuah Catatan Awal dari Kaum Mustad’afin Menyambut PEMIRA UNISI 2026

Tembilahan 14 April 2026. Tahun 2026 bukanlah sekadar angka. Ini adalah tahun di mana kita semakin akrab dengan kecerdasan buatan, banjir informasi tanpa filter, dan kultur digital yang membuat kita merasa tahu segalanya, tetapi sering kehilangan kemampuan untuk bertanya secara kritis. Kita hidup di zaman yang hyperconnected, tetapi justru semakin disconnected dari ruang-ruang demokrasi nyata di sekitar kita—termasuk di kampus sendiri.

Pemilihan Raya Mahasiswa (PEMIRA) Unisi 2026 akan segera digelar. Bukan sekadar agenda tahunan yang di wariskan secara turun-temurun. Bukan pula panggung seremonial yang meriah tapi hampa makna. Pemira adalah cermin paling jujur dari kematangan intelektual kita sebagai mahasiswa. Pertanyaannya sekarang: apakah kita benar-benar siap, atau hanya sekadar sibuk?

Mahasiswa 2026 adalah generasi yang tumbuh bersama algoritma. Kita lebih cepat membaca trending topic daripada membaca visi-misi kandidat. Kita mahir membuat status panjang tentang krisis kepemimpinan nasional, tetapi sering malas mengecek rekam jejak calon ketua BEM kita sendiri. Kita hidup dalam gelembung echo chamber yang membuat kita merasa paling benar, namun justru tumpul dalam berdialog secara substantif. Ironi lainnya: kita pandai bersuara di media sosial, tetapi mudah diam ketika diajak hadir dalam forum-forum diskusi kampus. Kita ingin perubahan, tetapi tidak ingin repot. Kita kritis terhadap sistem, tetapi memilih golput sebagai bentuk protes yang sebenarnya hanya melahirkan kepasrahan.

Inilah ironi besar mahasiswa zaman now. Dan di tengah ironi itulah, PEMIRA (PEMIRA) Pemilihan Raya Unisi 2026 hadir sebagai ruang ujian. Apakah kita akan melanjutkan siklus apatis, ataukah kita mulai bangkit sebagai pemilih cerdas dan kritis?

Penulis dari dari warung kopi pinggir jalan ingin mengajak kita semua untuk tidak lagi menyambut PEMIRA dengan euforia kosong. Mari kita gunakan kerangka berpikir intelektual sebagai pisau bedah. Setidaknya ada 2 gagasan besar yang harus kita pegang teguh:

1. PEMIRA Bukan Ajang Popularitas, Tapi Kontestasi Gagasan. Jangan biarkan demokrasi kampus kita direduksi menjadi sekadar kontes wajah, popularitas medsos, atau janji manis tanpa data. Setiap calon wajib diajukan pertanyaan yang menyentuh akar masalah kampus. Jika mereka tidak bisa menjawab dengan logika dan bukti, maka mereka tidak layak memimpin.

2. Partisipasi Kritis Lebih Berharga. Hadir mencoblos itu penting, tetapi tidak cukup. Kita harus datang ke debat kandidat, membaca dokumen visi-misi, membandingkan program, dan mengawal proses Pemira dari awal hingga akhir. Partisipasi tanpa kesadaran hanyalah gerakan robotik.

Universitas Islam Indragiri bukanlah sekadar gedung, dosen, dan jadwal kuliah. Ia adalah ruang perjuangan di mana kita belajar menjadi manusia yang merdeka, berpikir kritis, dan bertanggung jawab. Dan PEMIRA adalah salah satu panggung paling konkret untuk membuktikan apakah kita layak disebut mahasiswa atau hanya sekadar penghuni sementara kampus.

Sebuah catatan dari kaum mustad'afin Leaders yang akan terpilih untuk memimpin Organisasi Mahasiswa Unisi juga harus menjamin ruang aman bagi perempuan. Ruang aman bukan sekadar ruang fisik, melainkan ekosistem sosial dan kebijakan yang menjamin perempuan dapat berpartisipasi, berkarya, dan memimpin tanpa rasa takut akan intervensi kuasa yang merendahkan serta ancaman kekerasan. Dalam konteks Pemilihan Raya Unisi (Pemira), kontestasi calon pemimpin ormawa harus menjadi teladan praktik demokrasi yang bebas dari politisasi tubuh dan intimidasi gender.

Mari sambut Pilraya Unisi 2026 dengan gagasan yang tajam, hati yang tenang, dan keberanian untuk memilih bukan berdasarkan siapa yang populer, tetapi berdasarkan siapa yang benar-benar memiliki kapasitas dan integritas.

“Karena pada akhirnya, masa depan kampus ini tidak ditentukan oleh siapa yang paling keras bersuara, tetapi oleh siapa yang paling jernih berpikir” Atas Nama Yang Maha Tinggi_Yakin Usaha Sampai.

#Pendidikan

Index

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index