Tembilahan Hulu – Polemik program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di SDN 008 Tembilahan Hulu kian menguat setelah pihak sekolah dan penyedia makanan mengakui adanya pembagian buah alpukat yang mayoritas belum layak konsumsi.
Kepala SDN 008 Tembilahan Hulu, Hamsah, membenarkan bahwa dari total 340 siswa penerima, hanya sekitar 10 buah alpukat yang dalam kondisi matang, sementara sisanya masih mentah.
“Yang matang hanya sekitar kurang lebih 10 buah, selebihnya belum bisa dikonsumsi,” ujarnya, Senin (27/4/2026).
Sebagai langkah lanjutan, pihak sekolah meminta siswa membawa kembali alpukat mentah tersebut sebagai bukti. Namun, pengakuan ini sekaligus membuka fakta bahwa persoalan kualitas makanan bukan kejadian baru.
“Keluhan sudah sering kami sampaikan ke penyalur. Sempat diperbaiki, tapi kemudian terulang kembali,” kata Hamsah.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius terkait efektivitas pengawasan dalam program yang dibiayai anggaran negara tersebut.
Di sisi lain, pihak SPPG melalui Mufti memberikan klarifikasi yang justru memperlihatkan adanya persoalan di rantai pasok dan pengambilan keputusan di lapangan.
Ia menyebut pengawasan dilakukan oleh ahli gizi dan terdapat standar operasional (SOP) terkait kualitas bahan pangan.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan standar tersebut tidak berjalan optimal.
“Kami sudah melakukan pengecekan. Jika tidak sesuai, kami minta pengembalian. Tapi memang ada supplier yang mengirimkan buah belum matang,” ujarnya.
Lebih lanjut, Mufti mengungkap dilema yang terjadi saat distribusi. Ia menyebut sebagian alpukat yang tampak matang justru memiliki kondisi bagian dalam yang menghitam dan dinilai tidak layak konsumsi.
“Yang matang saat dibelah ada yang hitam di dalam. Jadi diputuskan yang dibagikan adalah yang masih mentah,” jelasnya.
Pernyataan tersebut memicu sorotan, karena menunjukkan bahwa bahan pangan yang tersedia pada saat distribusi sama-sama bermasalah, baik yang matang maupun yang belum matang.
Selain itu, alasan keterbatasan waktu distribusi juga dikemukakan sebagai penyebab buah tidak sempat diperam sebelum dibagikan ke siswa.
SPPG juga mengakui bahwa ini merupakan kali pertama penggunaan alpukat dalam menu MBG, dan memastikan ke depan bahan tersebut tidak akan lagi digunakan.
“Kami mohon maaf sebesar-besarnya. Ini menjadi evaluasi kami dan ke depan pengawasan akan diperketat,” ujar Mufti.
Ia menambahkan bahwa kejadian ini telah dikoordinasikan dengan pihak koordinator wilayah Indragiri Hilir serta aparat terkait.
Meski demikian, rangkaian pengakuan dari pihak sekolah dan penyedia justru mempertegas adanya celah serius dalam pengendalian mutu, mulai dari pemasok, proses seleksi bahan, hingga keputusan distribusi di lapangan.
Dengan temuan bahwa ratusan siswa menerima makanan yang tidak dapat langsung dikonsumsi, publik kini mempertanyakan sejauh mana standar gizi dan kelayakan benar-benar diterapkan dalam program MBG.
Evaluasi menyeluruh dinilai mendesak, tidak hanya pada tingkat teknis, tetapi juga pada sistem pengawasan agar kejadian serupa tidak terus berulang.