KAMPAR,- Misnarli, mahasiswa Magister Manajemen Universitas Lancang Kuning di bawah bimbingan Dr. Richa Afriana Munthe, SE., MM., memilih Dynamic Capabilities Theory sebagai dasar analisis untuk memahami bagaimana institusi pendidikan mampu beradaptasi, berinovasi, dan memperbarui kompetensinya dalam menghadapi perubahan lingkungan.
Ia melihat bahwa dunia pendidikan, termasuk UIN Suska Riau, berada dalam tekanan perubahan yang cepat, mulai dari transformasi digital, tuntutan kurikulum MBKM, hingga kebutuhan peningkatan kualitas lulusan.
Menurut Misnarli, Dynamic Capabilities Theory memberikan kerangka yang kuat untuk menjelaskan bagaimana organisasi pendidikan dapat merasakan peluang, menangkapnya, dan mengubah struktur internal agar tetap relevan.
Ia menilai bahwa upaya UIN Suska Riau dalam mengembangkan kurikulum berbasis MBKM, memperkuat sistem digital seperti SITASI, serta mendorong penelitian dan pengabdian masyarakat merupakan bentuk kemampuan dinamis yang mencerminkan proses sensing, seizing, dan transforming. Namun, ia juga mencatat bahwa efektivitas implementasi manajemen strategis dan kesiapan lulusan masih menjadi tantangan yang perlu ditangani secara serius.
Misnarli menekankan bahwa kemampuan dinamis tidak hanya berbicara tentang inovasi, tetapi juga tentang kemampuan organisasi untuk mengintegrasikan pengalaman, membangun rutinitas baru, dan mengonfigurasi ulang sumber daya secara berkelanjutan. Dalam konteks pendidikan, hal ini mencakup peningkatan kompetensi dosen, penguatan budaya akademik, serta pemanfaatan teknologi untuk memperbaiki proses pembelajaran dan administrasi. Ia melihat bahwa UIN Suska Riau telah memulai langkah transformasi, tetapi masih membutuhkan konsistensi dan penguatan kapasitas agar perubahan tersebut berdampak nyata pada kualitas lulusan.
Sebagai gagasan profesional, Misnarli mengusulkan penerapan Dynamic Capabilities secara lebih terstruktur melalui tiga fokus utama.
1. Pertama, memperkuat kemampuan sensing dengan memperluas riset pedagogi, memantau kebutuhan industri, dan meningkatkan literasi digital pengajar.
2. Kedua, memperkuat kemampuan seizing melalui adopsi metode pembelajaran inovatif seperti blended learning dan project based learning.
3. Ketiga, memperkuat kemampuan transforming dengan membangun budaya organisasi yang adaptif, memperbaiki sistem informasi akademik, dan meningkatkan kolaborasi lintas unit. Pendekatan ini diyakini dapat membantu institusi pendidikan merespons perubahan dengan lebih cepat dan efektif.
Dalam pandangan Dr. Chandra Bagus sebagai masyarakat sekaligus peneliti Ilmu Manajemen, ketika dimintai pendapat Misnarli, gagasan ini memberikan nilai penting karena mampu menghubungkan teori kemampuan dinamis dengan realitas dunia pendidikan.
Dr. Chandra mengapresiasi kemampuan Misnarli membaca tantangan institusi pendidikan dalam konteks transformasi digital dan tuntutan kompetensi abad 21. Ia juga memberi catatan kritis bahwa kemampuan dinamis tidak akan berkembang tanpa komitmen kepemimpinan, konsistensi implementasi, dan budaya organisasi yang mendukung pembelajaran berkelanjutan.
Menurutnya, institusi pendidikan yang mampu memperbarui kompetensinya secara terus menerus akan menghasilkan lulusan yang lebih siap menghadapi perubahan dunia kerja.